sumber:ruangansor

Oleh: Ach. Affandi

Di pematang sawah yang lembab oleh hujan,
aku pernah menuliskan namamu di dalam doa-doa paling sunyi.
Seperti petani yang menanam benih tanpa pernah tahu
apakah musim akan berpihak atau justru datang membawa gagal panen.

Aku hanyalah lelaki desa.
Lelaki dengan telapak tangan kasar, dengan sandal usang
dan tubuh yang akrab dengan matahari.

Aku tidak punya banyak hal untuk membuatmu kagum. Aku hanya punya hati
yang selalu pulang kepadamu, dan kesetiaan yang kujaga lebih hati-hati
daripada aku menjaga diriku sendiri.

Aku pernah percaya, cinta cukup dibangun
dengan perjuangan dan ketulusan.
Bahwa dua orang yang saling menggenggam akan mampu bertahan
meski hidup belum benar-benar mapan.

Maka kupikul hari-hari berat itu sendirian.
Kutukar masa muda dengan kerja keras.
Kutahan gengsi, kutelan malu, dan kusembunyikan letih
agar suatu hari nanti aku bisa datang kepadamu
bukan hanya membawa cinta, tetapi juga kehidupan.

Namun rupanya dunia memiliki cara lain untuk menentukan siapa yang pantas dipilih. Kau pergi ke tanah suci itu, dan di sana kau bertemu lelaki pilihanmu.

Ya Lelaki dari tanah suci itu.

Lelaki yang hidupnya telah tertata, yang tak perlu menjelaskan
betapa keras dunia pernah memukulnya.
Ia datang dengan ketenangan, dengan masa depan yang tampak selesai,
dengan cara bicara yang membuatmu percaya bahwa hidup bersamanya
akan jauh dari luka.

Sedangkan aku
masih sibuk berlari mengejar hidup yang bahkan
tak pernah benar-benar menungguku.

Dan perlahan aku sadar, akulah orang yang kalah.

Bukan karena kurang mencintai, melainkan karena aku tak mampu
memberimu rasa aman secepat yang bisa ia beri. Kau memilih lelaki tanah suci itu. seseorang
yang mampu memberimu kepastian tanpa harus melewati jalan panjang.

Sementara aku tetap tinggal di desa kecil ini, menjadi lelaki yang tiap malam
berbincang dengan sepi. Lampu rumah redup, suara jangkrik memanjang, dan angin sawah selalu membawa kenangan tentangmu datang diam-diam ke dadaku.

Kekasih aku masih duduk di pematang tempat
aku pernah menanam seluruh harapan tentang kita. Lalu aku bertanya pada langit:
mengapa ketulusan sering kalah oleh kemapanan?

Mengapa seseorang yang rela berdarah demi cinta
justru ditinggalkan oleh orang yang paling ia perjuangkan?

Namun semakin dewasa, aku mulai mengerti:
tidak semua perempuan ingin mencintai proses.
Sebagian hanya ingin tiba di kehidupan yang telah selesai dibangun.

Dan aku, hanyalah lelaki yang baru memulai bangunan itu
ketika kau memilih pergi.

Aku tidak membencimu.

Bagaimana mungkin aku membenci seseorang yang hanya memilih
hidup yang lebih menjanjikan? Aku hanya sedih
karena ternyata cinta saja tak cukup membuat seseorang bertahan.

Dan bila suatu hari nanti kau merasa asing
di pelukan lelaki dari tanah suci pilihanmu itu.


Ingatlah kekasih

Pernah ada seorang lelaki desa yang mencintaimu dengan cara paling sederhana:
menyebut namamu dalam doa, bekerja hingga lupa lelah,dan menjadikanmu alasan
untuk tetap kuat menghadapi dunia.

Tetapi kau memilih pergi, sementara aku tetap tinggal
di antara sawah, hujan, dan harapan-harapan
yang perlahan membusuk bersama musim yang berganti.

Dan jika akhirnya aku memang harus kalah,
maka doaku sederhana: semoga kau benar-benar bahagia
bersama lelaki dari tanah suci itu.

Semoga ia mampu menjagamu lebih baik daripada aku mencintaimu,
dan semoga namaku tak pernah lagi menjadi luka di perjalanan hidupmu.

(Yogyakarta 27 Mei) Ini bukan puisi! Ini isi hati!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *