Bayangkan jika hari ini RA Kartini terbangun dan melihat cakrawala kita. Ia mungkin tidak lagi terkejut dengan pingitan tembok kadipaten, namun ia akan terpukul melihat "pingitan" gaya baru yang jauh lebih luas dan mematikan: krisis iklim. Hari ini, kegelapan yang ia lawan bukan lagi sekadar ketiadaan akses pendidikan, melainkan langit yang pekat oleh polusi dan tanah yang pecah karena kekeringan ekstrem. Di pelosok nusantara, Kartini-Kartini masa kini harus berjalan berkilo-kilometer lebih jauh bukan untuk mencari ilmu, melainkan demi memanggul jeriken air bersih karena sumur mereka telah mati terpapar intrusi laut. Sangat ironis bahwa di tengah narasi kemajuan zaman, perempuan tetap menjadi pihak yang paling pertama terpukul oleh amuk iklim namun menjadi yang paling terakhir didengarkan di meja kebijakan.

Kritik pedas ini bermuara pada fakta bahwa kebijakan klimatologi kita masih sering kali buta gender. Kita terjebak dalam "pingitan" sistemik di mana perempuan dianggap sebagai objek penderita dalam statistik bencana, sementara suara mereka dipinggirkan dari diskusi energi dan ekonomi hijau. Padahal, ketika harga pangan melambung akibat gagal panen, perempuanlah manajer krisis utama yang harus memutar otak di dapur dan pasar. Beban domestik melonjak berkali-kali lipat saat banjir rob merendam pemukiman, namun akses mereka terhadap modal dan hak atas tanah tetap terbatas. Ini adalah sebuah absurditas pembangunan, kita ingin menyelamatkan bumi, tapi kita membungkam perspektif dari mereka yang paling tahu cara merawatnya.

Namun, titik balik mulai tercipta dari desakan arus bawah. Kelahiran Toolkit Aksi Iklim Muda yang Responsif Gender pada Februari 2026 lalu oleh UN Women dan Green Welfare adalah tamparan sekaligus kompas bagi sistem yang selama ini abai. Dokumen ini bukan sekadar kertas kerja, melainkan pengakuan bahwa kebijakan lingkungan yang mengabaikan kebutuhan spesifik perempuan adalah kebijakan yang cacat sejak lahir. Literasi iklim kini menjadi bentuk emansipasi baru; perempuan muda tidak lagi menunggu instruksi dari atas, melainkan memimpin adaptasi mandiri dari pesisir hingga pegunungan.

Kesadaran kolektif ini membuktikan bahwa narasi transisi energi dan ketahanan pangan tidak boleh lagi hanya menjadi jargon teknokratis yang didiskusikan di ruangan berpendingin udara. Toolkit yang lahir di awal 2026 ini harus menjadi katalisator untuk meruntuhkan sekat-sekat birokrasi yang selama ini menganggap urusan dapur, air bersih, dan pengasuhan anak sebagai isu domestik yang remeh, padahal itulah jantung dari pertahanan kita melawan krisis iklim. Tanpa mengintegrasikan perspektif perempuan sebagai pemegang pengetahuan lokal, setiap upaya penyelamatan bumi hanyalah sebuah langkah semu yang akan terus mengulang kegagalan. Kini, saatnya kita memastikan bahwa pemulihan alam berjalan beriringan dengan pemulihan hak-hak perempuan, karena bumi yang lestari mustahil terwujud di atas pondasi ketidakadilan gender yang masih kokoh berdiri.

Visi kita hari ini tidak boleh berhenti pada seremoni kebaya setahun sekali yang hanya indah di permukaan. Merayakan Kartini harus berarti membuka ruang nyata bahswasanya memberi panggung, kepercayaan, dan pendanaan bagi perempuan akar rumput yang setiap hari menjaga lingkungan, sering kali tanpa sorotan dan tanpa dukungan. Kartini bukan sekadar simbol, tapi keberanian untuk melawan ketidakadilan. Maka hari ini, kita juga harus berani menggugat sistem yang merusak alam sekaligus menyingkirkan perempuan dari pengambilan keputusan. Tidak cukup merayakan, KITA HARUS BERPIHAK.

Hari Kartini adalah pengingat bahwa krisis iklim dan ketimpangan gender berjalan beriringan. Kita tidak akan pernah mencapai keadilan iklim jika perempuan masih dibungkam, diabaikan, atau hanya dijadikan pelengkap. Pilihan ada di tangan kita: diam dan membiarkan krisis membesar, atau berdiri, bersuara, dan ikut membangun perubahan. Karena pada akhirnya, seperti yang diwariskan Kartini, masa depan tidak ditentukan oleh keadaan tetapi oleh keberanian kita untuk mengubah dan mengambil peran.

Oleh: Andi Nur Fadini Putri, S.H (Sekretaris Umum KOPRI PC PMII DIY)