Di atas hamparan pasir putih pantai Lombang yang sunyi
Aku duduk merajut luka, menatap ufuk yang tak lagi bertepi
Aku adalah pewaris darah para penakluk ombak
Di urat nadiku mengalir siasat Arya Wiraraja yang telak
Diajarkan bahwa janji adalah keris yang disarungkan
Sekali dicabut, tak boleh surut meski badai menerjang dada.
Namun hari ini, di tanah Sriwijaya yang agung
Siasatku patah, cintaku karam di arus Musi yang menikung
Engkau adalah putri dari peradaban emas yang tenang namun dalam
Menenggelamkan seluruh harapanku ke dasar sungai yang paling kelam
Dengan tutur halus melayu, kau patahkan keris di tanganku
Tanpa darah, tanpa luka menganga, namun mematikan seluruh jiwaku
“Kita adalah dua kutub yang dipisahkan garis takdir purba, kerasnya karang Sumenep dan tenangnya rawa Sumatera,” ucapmu.
Aku tertegun, melihat sejarah yang kita susun dengan payah
Kini runtuh sebelum sempat menjadi sebuah wilayah.
Di Sumenep, garam tetap putih meski hatiku menghitam legam
Terbakar matahari, saksi betapa setianya aku merendam dendam
Bukan dendam amarah, tapi dendam rindu yang tak kunjung padam
Aku mencintaimu dengan cara yang paling menyayat nan purba
Seperti rakyat yang tetap sujud pada raja yang telah tiada
Mungkin bagi Sriwijaya, aku hanyalah debu dari seberang lautan
Singgah sebentar lalu tersapu oleh badai perpisahan.
Bagiku, engkau adalah satu-satunya wilayah yang tak mampu kutaklukkan
Satu-satunya kekalahan yang akan terus kurayakan dalam kesendirian
Aku akan pulang ke timur, membawa luka yang paling sunyi
Melewati sisa-sisa kemegahan Majapahit yang dulu kurencanakan bagimu.
Namun di setiap desau angin laut yang menyapu pipi,
Masih ada namamu dalam setiap doa yang kupanjat di sela waktu.
Ngayogyakarta 2026

