Sebuah rekaman video berdurasi 1 menit 33 detik mendadak jadi sorotan netizen setelah diunggah oleh akun Instagram @gardabiru_uny pada Jumat, 26 Juni 2026. Video tersebut merekam adu argumen yang sengit antara Wakil Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bidang SDM dan Hukum, Siswanto, dengan barisan mahasiswa yang tengah menggelar aksi di area Rektorat.
Ketegangan ini dipicu oleh penolakan pihak kampus terhadap pemasangan spanduk kritik yang dibawa oleh mahasiswa. Dalam rekaman tersebut, Siswanto secara blak-blakan menilai spanduk-spanduk aspirasi itu merusak estetika dan kebersihan lingkungan kampus.
“Itu sampah, tanya temen-temennya itu bersih atau kotor, kotor itu mas. Banyak orang yang menyatakan bersih itu yang gak waras menurut saya, kotor itu,” ucap Siswanto dalam video tersebut.
“Lihat kotor itu, mengotori lantai, mengotori pandangan, kotor itu, enggak pantas buat ditaruh di sini,” cetus Siswanto menambahkan.
Sentilan Kebijakan dan Isu SPPG yang Bikin Suasana Memanas
Suasana kian meninggi saat salah satu mahasiswa melontarkan sindiran balik yang membandingkan antara fisik spanduk dengan esensi kebijakan kampus.
“Lebih kotor ini atau kebijakan, Pak?” tanya mahasiswa tersebut.
“Kotor itu,” tegas Siswanto sembari mengarahkan telunjuknya ke lantai.
Konfrontasi lisan ini mencapai puncaknya ketika mahasiswa mulai mengungkit isu sensitif mengenai rencana masuknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke lingkungan UNY. Menanggapi hal itu, Siswanto menantang balik mahasiswa untuk membuktikan keberadaan program tersebut.
“Tanya sama yang buat SPPG. Sekarang buktikan SPPG UNY di mana kalau kamu bilang ada,” cecar Siswanto berulang kali.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perselisihan ini terjadi pada Rabu, 24 Juni 2026. Saat itu, aliansi mahasiswa Garda Biru UNY sedang menggelar aksi demonstrasi untuk menyuarakan protes terhadap sejumlah kebijakan internal maupun nasional.
Melalui keterangan tertulisnya, Garda Biru UNY menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa beberapa poin tuntutan lokal, di antaranya:
- Menolak rencana operasional SPPG di UNY.
- Menolak kebijakan triple gate.
- Menolak kebijakan tes kesehatan bagi mahasiswa baru (maba).
Tidak hanya isu internal, massa juga menyoroti situasi politik nasional, seperti menguatnya kembali peran militer dalam ranah sipil yang dinilai mencederai cita-cita reformasi. Mereka juga menyatakan penolakan terhadap proyek strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Kopdes, dan Danantara yang dianggap minim perencanaan, lemah transparansi, serta rentan memicu praktik korupsi.
Perwakilan mahasiswa memaparkan bahwa awalnya mereka berniat menggelar aksi teatrikal di tangga rektorat sekaligus membentangkan spanduk di area balkon. Namun, langkah mereka dijegal tanpa alasan yang jelas.
“Kita dihadang dan tidak diperbolehkan masuk tanpa ada penjelasan yang dapat diterima. Saat spanduk itu jadinya mau digelar di tangga selasar, WR SDM dan Hukum UNY mengatakan bahwa spanduk kritik kita itu kotor, dan sampah,” ungkap perwakilan mahasiswa.
Mereka juga menyayangkan sikap Wakil Rektor yang mempertanyakan keberadaan SPPG, mengingat aksi ini justru digelar untuk merespons pernyataan Rektor UNY sebelumnya, Sumaryanto, yang sempat menyatakan kesiapan kampus mengelola SPPG demi mendukung program Badan Gizi Nasional (BGN).
Demi menjaga kondusivitas area rektorat yang saat itu sedang dijadikan spot foto wisuda, massa akhirnya memilih mundur dan mengalihkan aksi ke depan gerbang utama UNY. Di lokasi baru ini, mahasiswa melanjutkan agenda mereka dengan menggelar prosesi teatrikal meruwat, berorasi, hingga membacakan puisi.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) masih belum memberikan pernyataan resmi ataupun klarifikasi lebih lanjut terkait video perdebatan yang kepalang viral tersebut.