Oleh: Akid Arbun
Yang Maha luka
Apa yang paling sakit dari pada kehilangan
Yang sakit bukan kepergianmu tapi hilangnya teguhmu dari genggaman
Apa yang lebih sedih dari penghianatan
Yang sedih bukan pengingkaranmu tapi lenyapnya syukurmu dari pelukan
Apa yang terlampau perih dari kepergian
Yang perih bukan hilangmu tapi heningnya doa-doa.
Air mata adalah perayaan terakhir setelah malam hengkang dari harapan.
Klaten, 25
Andai ibuku penyair
:
Andai ibu pandai bersyair
Mungkin seperti ini bunyinya
“Aku sengaja melepasmu ke bumi, karena hatiku yakin, matahari akan jinak ditanganmu, dan rembulan dalam genggamanmu”
“Kelahiran adalah kemestian bagimu
Aku ibumu, aku tahu ada belantara dibalik matahari terbit, berlarilah jangan jatuh, kau kepunyaanku, aku tahu betapa kebal hatimu”
“Aku ibumu, aku selalu mengingatmu, dalam doa yang senyap, pada kata-kata yang ramai, aku ingin kau tetap tersenyum, meski aku tahu, buku pertama yang kau baca adalah caranya menangis”
Yogyakarta, 2024
Andai ibuku penyair
:
Andai ibu pandai bersyair
Mungkin seperti ini bunyinya
“Aku sengaja melepasmu ke bumi, karena hatiku yakin, matahari akan jinak ditanganmu, dan rembulan dalam genggamanmu”
“Kelahiran adalah kemestian bagimu
Aku ibumu, aku tahu ada belantara dibalik matahari terbit, berlarilah jangan jatuh, kau kepunyaanku, aku tahu betapa kebal hatimu”
“Aku ibumu, aku selalu mengingatmu, dalam doa yang senyap, pada kata-kata yang ramai, aku ingin kau tetap tersenyum, meski aku tahu, buku pertama yang kau baca adalah caranya menangis”
Yogyakarta, 2024
Kauku
:
Untuk kau yang merayakan kesedihan
Hujan kristal dibawah matamu
Adalah bulir doa yang tak bisa kau prosakan
Ia hanya mengalir membawa pesan-pesan
Yang tak bisa kau ucapkan
Kepadamu yang merasa kesepian
Yang merasa dirinya dijauhi
Yang merasa dirinya bersedih
Yang merasa dirinya diasingkan
Segera sudahi semuanya
Kau lebih cantik ketika bahagia
Setelah itu ajari aku
Agar tidak kehilanganmu
Untuk pertama kalinya
Yogyakarta, 2026